Makna Mendalam Dari Kisah Sri Tanjung
Relief dan Naskah Sri Tanjung tentang Kematian dan Pensucian diri
Kekayaan dunia
kesusastraan Jawa telah membuat lahirnya begitu banyak karya-karya sastra yang
bermutu tinggi. Salah satu kekayaan tersebut adalah naskah yang mengandung teks
mengenai berbagai pemikiran, pengetahuan, adat istiadat, serta perilaku
masyarakat masa lalu. Naskah menyimpan makna dan dimensi yang sangat luas
karena merupakan produk dari sebuah tradisi panjang yang melibatkan berbagai
sikap budaya masyarakat dalam periode tertentu. Naskah bisa bertahan sampai sekarang
dikarenakan adanya budaya menyalin naskah. Tradisi mutrani menyalin
naskah-naskah tersebut berlangsung dari generasi ke generasi, sehingga semua
naskah lama yang kita miliki sekarang merupakan salinan yang ke sekian kali
dari naskah yang asli. Dalam tradisi penyalinan naskah dan teks dikenal dua
macam tradisi, yakni penyalinan tertutup dan penyalinan terbuka.
Dengan adanya
penyalinan terbuka inilah kemudian muncul banyaknya versi dan varian yang ditemukan
pada naskah teks Sri Tanjung. Selain versi dan varian, tradisi penyalinan
terbuka tentunya juga berkaitan erat dengan adanya penelusuran hubungan
kekerabatan antar teks. Penelitian ini bertujuan untuk mencari hubungan
kekerabatan pada teks Sri Tanjung dengan menggunakan sebagian dari prinsip
kerja filologi yang meliputi inventarisasi naskah, deskripsi naskah, eliminasi
naskah, kemudian perbandingan teks yang mencakup perbandingan tentbang,
cariyos, dan tembung. Dari hasil inventarisasi, naskah Sri Tanjung ditemukan
sebanyak 43 buah yang tersebar baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
Setelah dilakukan proses eliminasi, naskah Sri Tanjung yang bisa dijadikan
objek penelitian berjumlah empat. Setelah melewati proses deskripsi, teks Sri
Tanjung kemudian diperbandingkan, lalu di analisis. Selanjutnya diperoleh basil
hubungan kekerabatan antar teks Sri Tanjung.
Cerita dan Naskah Sri
Tanjung sendiri dikenal di daerah Jawa Timur, Khususnya Banyuwangi, dan Bali,
Anggapan ini dikemukakaan oleh Prijono dalam disertasinya1 (1938 : 16) dan oleh
Poerbatjaraka di dalam Kepustakaan Djawi (1954
: 90). Naskah asli yang berjudul “Sri Tanjung” ini tidak dijumpai pada halaman
sampul , melainkan pada halaman selanjutnya Nama Sri Tanjung ini ditulis “Sri
Tanjoeng” danb dituliskan di ruang kecil bagian atas dari bingkai bergambar
bunga (relung). Isi naskah ini dapat dikaitkan dengan hasil persentasi Prijono.
Dari perbandingan dan
rekonstruksi naskah-naskah Sri Tanjung yang berasal dari Bali, telah disusun
naskah babon atau archetypes-nya oleh
Prijono. Setelah pembandingan naskah babon Sri Tanjung Prijono dengan naskah
Sri Tanjung yang dijumpai tim peneliti di Banyuwangi , jelaslah bahwa Sri Tanjung Banyuwangi yang terakhir ini
tidak termasuk dalam versi Bali. Tanpa membandingkan beberapa naskah yang ada
naskah babon yang terdapat dalam disertasi Prijono lah yang akan dimaksudkan
dalam penelitian ini yang cerita dan penelitianya dirasa sesuai dengan
periodeisasi waktu yang sama dengan cerita Sri Tanjung yang muncul di abad
ke-13 dimana banyak relief-relief Sri Tanjung diabadikan pada panil-panil
relief candi masa Majapahit.

Komentar
Posting Komentar